e-Commerce

Win Konadi Manan

Win Konadi Manan

A. DUNIA E COMMERCE

Gedung Putih pada bulan Juli tahun 1997 mendeklarasikan terjadinya sebuah revolusi industri baru yang akan berdampak pada stabilitas ekonomi global. Revolusi ini sejalan dengan fenomena maraknya bisnis secara elektronik/digital yang menggunakan internet sebagai medium bertransaksi. Metode bertransaksi ini kemudian lebih dikenal dengan istilah “e Commerce”.
Definisi “e Commerce” sendiri sangat beragam, bergantung pada perspektif atau kacamata yang memanfaatkannya.
Association for Electronic Commerce secara sederhana mendefinisikan e-Commerce sebagai “mekanisme bisnis secara elektronis”.
CommerceNet, sebuah konsorsiurn industri, memberikan definisi yang lebih lengkap, yaitu “penggunaan jejaring komputer (komputer yang saling terhubung) sebagai sarana penciptaan relasi bisnis”.
Tidak puas dengan definisi tersebut, CommerceNet menambahkan bahwa di dalam e Commerce terjadi “proses pembelian dan penjualan jasa atau produk antara dua belah pihak melalui internet atau pertukaran dan distribusi informasi antardua pihak di dalam satu perusahaan dengan menggunakan intranet”.
Sementara Amir Hartman dalam bukunya “Net Ready” (Hartman, 2000) secara lebih terperinci lagi mendefinisikan e Commerce sebagai “suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronis yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah institusi (B-to-B) maupun antar institusi dan konsumen langsung (B-to-C)”.
Beberapa kalangan akademisi pun sepakat mendefinisikan e Commerce sebagai “salah satu cara memperbaiki kinerja dan mekanisme pertukaran barang, jasa, informasi, dan pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi berbasis jaringan peralatan digital”.
Terlepas dari berbagai jenis definisi yang ditawarkan dan dipergunakan oleh berbagai kalangan, terdapat kesamaan dari masing-masing definisi tersebut. Kesamaan tersebut memperlihatkan bahwa e Commerce memiliki karakteristik sebagai berikut :
    Terjadinya transaksi antara dua belah pihak
    Adanya pertukaran barang/jasa/ informasi
    Internet merupakan medium utama dalam proses atau mekanisme perdagangan tersebut.
Dari karakteristik di atas terlihat jelas bahwa pada dasarnya e Commerce merupakan dampak dari berkembangnya teknologi informasi dan telekomunikasi. Secara signifikan ini mengubah cara manusia melakukan interaksi dengan lingkungannya, yang dalam hal ini terkait dengan mekanisme dagang.
Semakin meningkatnya komunitas bisnis yang mempergunakan internet dalarn melakukan aktivitas sehari hari secara tidak langsung menciptakan sebuah domain dunia baru yang kerap diistilahkan sebagai “cyberspace” atau dunia maya.
Berbeda dengan dunia nyata (real world), cyberspace memiliki karakteristik yang unik. Karakteristik unik tersebut memperlihatkan bahwa seorang manusia dapat dengan mudah berinteraksi dengan siapa saja di dunia ini sejauh yang bersangkutan terhubung ke internet. Hilangnya batasan dunia yang memungkinkan seseorang berkomunikasi dengan orang lain secara efisien dan efektif ini secara langsung mengubah cara perusahaan dalam melakukan bisnis dengan perusahaan lain atau konsumen.
Peter Fingar mengungkapkan bahwa pada prinsipnya e Commerce menyediakan infrastruktur bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi proses bisnis internal menuju lingkungan eksternal tanpa harus menghadapi rintangan waktu dan ruang (time and space) yang selama ini menjadi isu utama. Peluang untuk membangun jejaring dengan berbagai institusi lain harus dimanfaatkan karena dewasa ini persaingan sesungguhnya terletak pada bagaimana sebuah perusahaan dapat memanfaatkan e Commerce untuk meningkatkan kinerja dalam bisnis inti yang digelutinya.
Jika dilihat secara seksama, pada dasarnya ada empat jenis relasi dalam dunia bisnis yang biasa dijalin oleh sebuah perusahaan (Fingar, 2000), yaitu:
    Relasi dengan pemasok (supplier)
    Relasi dengan distributor
    Relasi dengan rekanan (partner)
    Relasi dengan konsumen (customer).
Berdasarkan bisnis intinya, masing masing perusahaan memiliki urutan proses utamanya sendiri sendiri (core processes). Pada berbagai titik subproses, terjadi interaksi antara perusahaan dan salah satu entitas relasi di atas. Jika dahulu kebanyakan relasi hanya dapat terjalin secara “one to one relationship” karena alasan efisiensi, dengan adanya e Commerce, hubungan antar perusahaan dengan entitas eksternal lainnya dapat dilakukan secara “many to many relationship” dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah.
Tiga jenis jaringan teknologi informasi biasanya dibangun pada sebuah perusahaan, yaitu internet, intranet, dan ekstranet.
Internet merupakan jaringan komputer yang dapat menghubungkan perusahaan dengan domain publik, seperti individu, komunitas, institusi, dan organisasi. Jalur ini merupakan jalur termurah yang dapat digunakan perusahaan untuk menjalin komunikasi efektif dengan konsumen mulai dari tukar menukar data dan informasi sampai dengan transaksi pembayaran yang dapat dilakukan dengan cepat dan murah melalui internet. Jenis e Commerce yang cocok memakai jalur internet ini adalah B to C.
Intranet merupakan infrastruktur jaringan komputer yang menghubungkan semua sumber daya manusia, baik manajemen maupun staf, dalam sebuah perusahaan sehingga mereka dapat dengan mudah saling berkomunikasi untuk menunjang aktivitas bisnis sehari hari. Aplikasi  aplikasi yang berhubungan dengan komunikasi, kolaborasi, dan kooperasi biasanya diimplementasikan di dalam sistem intranet ini.
Ekstranet merupakan sebuah infrastruktur jaringan yang menghubung kan perusahaan dengan para pemasok dan rekanan bisnisnya. Jika dahulu teknologi EDI (Electronic Data Interchange) banyak dipergunakan untuk keperluan ini, tipe e Commerce B-to-B merupakan pilihan tepat untuk membangun sistem ekstranet di perusahaan.
Pada akhirnya, e Commerce bukanlah sekadar mekanisme penjualan barang atau jasa melalui medium internet, tetapi lebih pada sebuah transformasi bisnis yang mengubah cara cara perusahaan dalam melakukan aktivitas usahanya sehari hari. Perubahan mendasar dan redefinisi ulang terhadap bisnis inti perusahaan sering kali harus dilakukan sehubungan dengan fenomena ini karena berbagai paradigma baru telah mengubur prinsip prinsip manajemen konvensional. Prinsip prinsip manajemen konvensional yang masih terus dilaksanakan tentunya akan merugikan perusahaan
(disadvantage).

B. KOMPONEN B TO B DI DUNIA MAYA

Di awal tahun 2000 diperkirakan bahwa bisnis e Commerce tipe B to B akan menjadi primadona di dunia maya. Michael J. Cunningham dalam bukunya “B2B: How to Build a Profitable e Commerce Strategy” mendefinisikan B-to-B e Commerce sebagai berikut :
“Business transactions conducted over public or private networks, including public and private transactions that use the internet as a delivery vehicle. These transactions include financial transfers, on line exchanges, auctions, delivery of products and services supply cbain activities, and integrated business networks”.
Melihat bahwa internet atau dunia maya merupakan aspek utama yang menjadi penyebab terjadinya jenis perdagangan ini, jelas bahwa arena pertarungan bisnis berada dalam wilayah dunia maya (digital).
“Digital marketplace” atau yang sering disebut “marketspace” ini pada dasarnya merupakan “wilayah” tempat para praktisi bisnis digital mempertaruhkan nasib dengan cara mencari celah kesempatan bisnis perdagangan secara elektronik yang ditawarkan. Untuk dapat memahami mekanisme persaingan yang terjadi di marketspace ini, perlu dipahami tiga elemen atau komponen utama yang membentuk pasar B-to-B (Cunningham, 2001).
Elemen pertama adalah “Business Rules” yang pada dasarnya mengandung prinsip prinsip bisnis di dunia maya yang harus dipahami pelakunya (how business is done). Setidak tidaknya para praktisi bisnis yang bersangkutan harus mema-hami filosofi dasar dari ekonomi digital yang memiliki beberapa perbedaan yang cukupsignifikan jika dibandingkan dengan prinsip prinsip ekonomi konvensional.
Fenomena, semacam keberadaan “prosumers”, munculnya “infornediary”, terwujudnya “virtualization”, dan lain lain, adalah hal hal yang harus dipahami karena merupakan landasan dasar terbentuknya aturan aturan bisnis di dunia maya.
Setelah pernahaman akan “Business Rules” dikuasai secara sungguh  sungguh, barulah elemen kedua di dalam B-to-B market, yaitu “Processes”, layak dipelajari dengan seksama. Dalam hal ini elemen proses adalah rangkaian aktivitas atau kegiatan operasional yang harus dijalankan agar perusahaan terkait dapat segera mentransformasikan “bahan mentah” yang ada menjadi produk atau jasa yang siap dikonsumsi oleh para calon pelanggan. Perlu diperhatikan bahwa seperti layaknya bisnis kebanya-kan di dunia nyata, setiap perusahaan pasti akan memiliki sejumlah rangkaian proses yang kinerjanya harus diperhatikan secara sungguh sungguh.
Misalnya, yang paling esensial adalah rangkaian proses pembayaran produk atau jasa yang dibeli, proses pernesanan bahan mentah atau bahan baku ke pihak pemasok (suppliers), proses pengiriman barang ke pelanggan, dan sebagainya.
Dengan dikuasainya prinsip “Business Rules” dan “Processes”, tugas selanjutnya yang harus dilaksanakan oleh praktisi bisnis internet adalah menentukan elemen ketiga, yaitu “Technology”.
Elemen ketiga ini adalah komponen yang akan mengubah kedua elemen pertama menjadi aktivitas operasional. Perlu diperhatikan, segala ide dan strategi bisnis di dunia maya akan sia sia tanpa didukung oleh infrastruktur teknologi informasi yang memadai karena secara teknis, mekanisme komunikasi dan transaksi bisnis yang ada terjadi pada komputer dan kabel kabel transmisi elektronik dan digital.
Dari berbagai model bisnis B to B yang ada, setidak tidaknya terdapat lima model yang terbukti “mapan” sebagai suatu. jenis bisnis yang akan tetap beroperasi di dunia maya, yaitu Infornediary/Portal, Procurement, Buyers and Suppliers, Auction, dan Supply Chain.

Infomediary/Portal

Portal di dalam dunia internet dapat dianalogikan sebagai sebuah “pintu masuk” menuju “sesuatu”. Dikatakan sebagai pintu masuk karena biasanya para pelanggan atau calon pelanggan terlebih dulu harus mengunjungi situs portal tertentu sebelum menjelajahi lebih lanjut dunia maya yang sedemikian luas.
Bisnis portal ini semakin hari semakin menjadi pilihan para pelaku bisnis karena pertumbuhan internet yang sedemikian cepat (skala eksponensial) menyebabkan semakin membesarnya “hutan informasi” di dunia maya akibat banjirnya informasi. Di mata pelanggan, banjirnya informasi tersebut sama saja dengan memiliki televisi dengan satu juta saluran. Akibatnya, sulit untuk mendapatkan informasi mengenai acara yang ingin ditonton jika hanya bergantung pada sebuah alat pernandu (remote control).
Berdasarkan domain informasinya, portal biasanya lahir dari tiga sistem jaringan, yaitu intranet, ekstranet, dan internet.
Portal yang lahir dari sistern intranet biasanya dipergunakan perusahaan untuk mengelola data, informasi, dan dokumen perusahaan yang tersebar di seluruh unit-unit usaha (knowledge management).
Sementara portal yang dibangun dari sebuah sistem ekstranet biasanya dipergunakan oleh berbagai shareholders (manajemen, staf, rekanan, pelanggan, dan sebagainya) yang ingin mencari informasi sehubungan dengan fungsi dan kebutuhan dari masing masing mereka (konsorsium perusahaan yang saling bekerja sama membangun ekstranet).
Jenis terakhir yang paling populer adalah portal yang menjadi pintu gerbang para pengguna internet untuk dapat mencari informasi di seluruh situs situs yang ada di internet. Oleh karena sifatnya yang menawarkan bantuan kepada para pengguna internet untuk mencari hal hal atau informasi yang diinginkan di dunia maya, fasilitas mesin pencari (searcbing engine) merupakan jantung dari sebuah portal.
Berbeda dengan portal di dalam tipe bisnis B-to-C, portal B-to-B sering kali berasosiasi dengan sebuah atau lebih domain industri tertentu, seperti :

  •     Multiple Industries – VerticalNet.com (portal B-to-B untuk berbagai jenis industri dalam macam macam sektor kehidupan)
  •     Single Industry – e-Steel.com (portal B-to-B yang diperuntukkan khusus untuk industri baja)
  •     Sector of Single Industry – Hard dollar.com (portal B-to-B yang dibangun khusus segala hal yang berhubungan dengan pembangunan infrastruktur jalan raya dan jembatan)
  • Jelas terlihat di sini bahwa kekuatan suatu portal akan sangat bergantung pada hal hal sebagai berikut :
  •     Kemampuan mesin pencari di portal terkait untuk mendapatkan informasi yang secara spesifik diinginkan oleh pengguna internet (pelanggan)
  •     Kualitas informasi (content) yang ditawarkan oleh portal terkait sehu-bungan dengan industri atau sektor bisnis yang direpresentasikannya
  •     Fasilitas fasilitas yang disediakan oleh portal untuk membantu pemakai dalam melakukan interaksi dengan berbagai situs terkait yang ada
  •     Mekanisme navigasi situs (website navigation) yang dapat meningkat kan kualitas konteks interaktif antara pengguna internet dan situs portal terkait.
  • Sejauh ini pemasukan terbesar dari tipe e Commerce semacam portal masih berasal dari iklan, yang berkaitan erat dengan besarnya komunitas pelanggan setia portal (loyal customers). Semua ini dapat dilihat dari tinggi rendahnya “hit rate” situs terkait.

Procurement

Peluang bisnis di pasar procurement ini berawal dari tingginya total biaya pengadaan (procurement cost) yang harus ditanggung oleh perusahaan pada umumnya.
Para pemasok (suppliers) bahan mentah, bahan baku, maupun barang jadi sadar betul akan permasalahan yang dihadapi oleh para calon pembeli (buyers) ini sehingga praktisi bisnis internet melihat kesempatan bisnis yg cukup menjanjikan.
Misalnya, jika ditawarkan suatu jasa yang dapat menawarkan berbagai manfaat/benefit kepada buyers, terutama yang berkaitan dengan pengurangan total biaya pengadaan. Seperti telah dipahami bersama, biaya pengadaan membengkak karena dua masalah utama, yaitu biaya penyimpanan barang (inventory cost) dan biaya administrasi (overhead) – dan tentu saja berbagai biaya biaya lain yang terkait dengan kedua hal ini.
Aplikasi B-to-B jenis procurement menawarkan suatu mekanisme otomati-sasi proses pengadaan barang sehingga sejumlah manfaat dapat dirasakan oleh perusahaan, seperti :

  •     Mereduksi biaya pengadaan suatu produk yang secara langsung berpengaruh terhadap harga barang
  •     Meningkatkan tingkat persediaan barang (availability)
  •     Mengurangi biaya total inventory (order cost, holding cost, dan opportunity cost)
  •     Memperbaiki proses kontrol pengadaan
  •     Memperbaiki pengelolaan keuangan perusahaan (cash management)
  •     Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelian dan pengadaan barang; dan sebagainya.

Perlu diperhatikan bahwa mekanisme bisnis ini tidak hanya terbatas pada perusahaan produksi, tetapi juga relevan dipergunakan untuk perusahaan yang bergerak di bidang jasa.
MisaInya :

  •     on line travel agency, yang memerlukan proses pengadaan tiket secara cepat dan aman,
  •     on line banking services, yang memerlukan proses pengadaan uang secara tepat waktu dan aman,
  •     online shipping services, yang memerlukan proses pengambilan barang secara cepat dan murah,
  •     dan sebagainya.

Dalam format bisnis ini, perusahaan yang ingin memperbaiki proses pengadaannya biasanya memerlukan infrastruktur teknologi dan sistem informasi yang dapat menghubungkannya dengan pihak pihak pemasok (suppliers), yang dapat dibangun sendiri maupun dipercayakan kepada pihak lain (outsourcing). Kerja sama teknologi antara berbagai perusahaan inilah yang membentuk peluang pasar baru di bidang e Commerce tipe B-to-B.

Buyers and Suppliers
Hubungan yang erat antara pembeli (buyers), penjual (suppliers) dan broker (intermediaries) secara tidak langsung dapat membentuk pasar tersendiri/baru di dunia maya yang kerap diistilahkan “The B-to-B Exchange”. Di dalam bursa B-to-B ini, komunitas suppliers, komunitas buyers dan komunitas broker secara bebas dapat saling bekerja sama membentuk peluang bisnis tertentu.
Sebutlah sebuah perusahaan pembuat software dan hardware yang bekerja sama dengan komunitas perusahaan distributor dan jasa pengiriman barang; atau komunitas hotel, komunitas jasa transportasi, dan komunitas tempat rekreasi bekerja sama dengan berbagai agen perjalanan yang menawarkan paket paket liburan kepada pelanggan.
Berbagai peluang untuk kerja sama yang terjadi antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya dapat dilakukan melalui beragam model bisnis, misalnya pembagian keuntungan (profit sharing), pemberian uang jasa (fee), pembayaran per transaksi, pertukaran atau kerja sama proses (barter), dan sebagainya.
Pembentukan bursa semacam ini memang memerlukan waktu yang cukup panjang karena sifatnya yang terbuka (open market) sehingga perkembangannya akan sangat ditentukan oleh interaksi bebas antara perusahaan perusahaan yang berada di dalamnya.

Auction

Jika di dalam bisnis konvensional, lelang (auction) lebih dikenal sebagai mekanisme perdagangan yang hanya cocok dipergunakan untuk penjualan barang bekas, di dalam dunia maya hal tersebut berlaku pula untuk produk baru atau bentuk jasa lainnya.

Prinsip dari pelelangan pada dasarnya adalah untuk memperoleh harga penawaran tertinggi di antara para calon pembeli sehingga pemilik barang benar benar memperoleh keuntungan yang paling maksimum (consumer surplus). Oleh karena mekanisme perdagangan bebas (free market) merupakan konsep jual beli yang umum dilakukan di internet, konsep lelang sangat cocok untuk diterapkan karena pembeli dan penjual dapat secara bebas “bertemu” untuk bertransaksi.
Konsep lelang ini juga dapat berkembang di dunia maya karena adanya fenomena “cost transparancy” yang secara tidak langsung dapat membuat pelanggan secara transparan “mengetahui” perkiraan harga yang wajar dari sebuah produk atau jasa.
Berbeda dengan model bisnis lelang untuk tipe bisnis B-to-C yang memper-bolehkan setiap individu untuk secara bebas melakukan penawaran, di dalam B-to-B hanya perusahaan perusahaan tertentu saja (yang telah memenuhi persyaratan teknis maupun bisnis) yang diperkenankan berpartisipasi di dalam proses pelelangan. Pendapatan bisnis ini sendiri dapat berasal dari berbagai sumber atau cara, seperti uang anggota (membership fees), porsi transaksi, pembagian keuntungan, kompensasi jasa, dan sebagainya.
Salah satu jenis lelang yang cukup digemari di dunia maya adalah “Reverse Auction”, yang pada dasarnya bekerja berlawanan dengan proses pelelangan biasa yang dikenal. Di dalam reverse auction, calon pembeli akan melihat bagaimana calon penjual “beradu harga” untuk suatu produk atau jasa tertentu, sehingga secara bebas si pembeli akan mendapatkan harga yang termurah untuk barang atau jasa yang sama.

Supply Chain
Untuk perusahaan perusahaan kelas menengah dan besar yang memiliki sistem informasi internal yang andal, mengimplementasikan manajemen rantai pasokan (supply chain management) merupakan pilihan favorit. Inti supply chain management adalah mengintegrasikan rantai proses internal perusahaan dengan rantai proses yang dimiliki pemasok dan pelanggan. Tentu saja jika pemasok maupun pelanggan telah memiliki sistem internal yang telah terkomputerisasi dengan baik, penyatuan rantai nilai yang ada secara signifikan akan meningkatkan efisiensi perusahaan, sejalan dengan meningkatnya potensi pendapatan (revenue) perusahaan.
Berbagai manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dengan disatukannya rantai proses antar perusahaan antara lain :

    Mempercepat siklus waktu proses manufaktur
    Memperpendek rantai penciptaan dan pengem-bangan produk
    Mempersingkat periode distribusi dan penjualan
    Memperkecil biaya penyimpanan barang
    Meningkatkan potensi pendapatan
    Menurunkan harga barang dan sebagainya.
Model bisnis untuk perusahaan yang mengimplementasikan tipe B-to-B supply chain ini biasanya sangat bergantung pada siapa di antara beberapa pihak yang bekerja sama tersebut yang memiliki “bargaining position” terbesar.
Contohnya adalah jaringan supermarket yang dapat “mendikte” para distributor consumer goods untuk menggunakan sistem yang dimilikinya, atau pabrik sepatu merek terkenal yang dapat mendikte para distributornya untuk menggunakan standar sistem komputer yang dimilikinya (dalam format ini perusahaan dapat mengenakan biaya pemeliharaan dan implementasi sistem).

C. TIGA TIPE E COMMERCE B-2-B

Forrester Research Inc., sebuah lembaga riset terkemuka di Cambridge Massachusetts, melaporkan bahwa nilai pasar potensial untuk tipe bisnis e Commerce B-2-B masih jauh lebih besar dibandingkan dengan tipe B-2-C. Diperkirakan bahwa pada tahun 2002, di Amerika Serikat saja, nilainya dapat mencapai US$ 3.8 miliar, suatu angka yang sangat fantastis.
Tingginya nilai ini tidak hanya disebabkan oleh besarnya potensi pasar yang ada, namun juga disebabkan oleh tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis B-2-C. Dari berbagai jenis model bisnis B-2-B yang ada, terlihat bahwa tiga jenis akan mendominasi pasar, yaitu model Enterprise Portals, Extranet, dan Virtual Markets (Rymer, 1999).

Enterprise Portals

Model bisnis ini merupakan jenis aplikasi yang menjadi primadona saat ini. Pertama kali diperkenalkan oleh Gartner Group pada tahun 1998, model ini merupakan pengembangan dari jenis consurner portal yang telah diperkenalkan terlebih dahulu oleh situs situs semacam Yahoo, AOL, dan Microsoft.
Bedanya adalah jika consumer portals ditujukan untuk semua users yang terhubung ke internet, pada enterprise portal, akses hanya dibatasi pada orang orang tertentu yang berada pada satu atau lebih domain.
Misalnya, enterprise portal milik Merrill Lynch yang hanya ditujukan untuk konsumen, pegawai, mitra bisnis, dan pemilik perusahaan itu saja.
Contoh lain, Campus Pipeline yang secara target hanya ditujukan untuk kelompok demografis tertentu, yaitu para mahasiswa.
Fasilitas fasilitas yang disediakan oleh portal terkait juga beragam, bergantung pada objek dan kebutuhan bisnis yang telah disepakati.
Misalnya, fasilitas untuk e mail, pencarian (searching), diskusi terbatas (workgroup), bercakap cakap secara virtual (chatting), akses ke berbagai sumber daya (resources), dan sebagainya.
lsu-isu utama yang harus secara intensif dikaji dan dipertimbangkan jika ingin membangun sebuah enterprise portal adalah sebagai berikut :
    Portal merupakan gerbang utama pusat enterprise knowledge yang merupakan hasil. pengolahan data dan informasi sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan.
Pada implementasinya, seorang user dihadapkan dengan sebuah situs. Oleh karena itu, desain situs harus dibuat sedemikian rupa sehingga mempermudah proses yang ada. Lihatlah bagaimana situs B-2-C Yahoo.com dan Altavista.com menampilkan hasil proses pencarian informasi.
    Value yang ditawarkan sebuah portal kepada penggunanya tidak hanya terbatas pada data, informasi, atau pengetahuan yang berkualitas saja, namun aspek aspek lainnya juga harus diperhitungkan.
Misalnya, bagaimana menindaklanjuti hasil penemuan informasi yang diinginkan, apakah dilanjutkan dengan proses tanya jawab (frequently asked questions), menghubungi customer services, mencari sumber sumber lain yang berkaitan dengannya, menawarkan produk produk terkait dengan informasi yang dicari, dan sebagainya.
Artinya, komputer harus dapat “memperkirakan” permasalahan yang dihadapi users ketika yang bersangkutan melakukan pencarian terhadap sebuah informasi sehingga komputer dapat seolah olah berpikir dan menawarkan alternatif solusi.
    Secara tidak langsung, perusahaan harus jeli dalam memilah-milah data dan informasi yang boleh diakses oleh berbagai users yang ada karena dapat mengganggu hak privacy seseorang atau sekelompok orang.
Contohnya pada Sistem Informasi Kependudukan jika seorang penduduk dapat mengetahui informasi mengenai tanggal perkawinan dan tanggal kelahiran semua penduduk yang ada, mereka akan dapat mengetahui dan mengambil kesimpulan terhadap seorang wanita yang hamil di luar nikah. Tentu saja hal ini akan menjadi bumerang jika tidak ditangani secara hati hati.
Semakin banyak fasilitas yang ditawarkan dalam sebuah portal, semakin tinggi kompleksitas arsitektur teknologi informasi yang harus dibangun. Tentu saja perusahaan harus benar benar memperhitungkan dan menganalisis cost dan benefit untuk setiap pelayanan atau fasilitas baru yang ingin dibangun pada sebuah portal.

Extranet

Sebenarnya, sistern extranet bukan merupakan konsep baru karena sistem ini telah cukup lama dikenal dalam dunia sistem informasi korporat setelah konsep lainnya, internet dan intranet diperkenalkan.
Dalam paradigma lama, extranet pada dasarnya merupakan sistem tambahan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan sebagai konsekuensi dari terintegrasinya sistern internal dengan sistem eksternal perusahaan, yaitu sistem informasi perusahan lain yang merupakan mitra kerja, seperti pemasok (suppliers), vendor, dan sebagainya.
Dalam paradigma baru, extranet memiliki peranan yang lebih dari sekadar sistem luar perusahaan yang  terkoneksi dengan sistern perusahaan, namun lebih ditekankan pada terintegrasinya proses penciptaan produk atau jasa dalam suatu rangkaian rantai proses (value chain).
Lebih jauh lagi, sistem extranet masa kini dibangun untuk mengimplementasikan supply chain management, yaitu bagaimana menyatukan proses-proses dari hulu (supplier) ke hilir (customers). Dengan kata lain, bagaimana melibatkan dan memasukkan konsumen ke dalam proses internal perusahaan. Tujuannya jelas, yaitu untuk mencapai tingkat efisiensi, efektivitas, dan kontrol internal yang tinggi.
Isu isu utama yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
    Masalah yang jelas terlihat adalah bagaimana mengintegrasikan sistem yang dimiliki perusahaan dengan berbagai sistem yang dimiliki perusahaan lain.
Semakin berbeda platform sistem yang dipergunakan semakin meningkat kompleksitas integrasi yang harus dilakukan. Paling tidak tiga aspek harus dapat terkoneksi dan terintegrasi dengan baik, yaitu pada level data, proses, dan teknologi.
    Pada mulanya, untuk menginte-grasikan beberapa sistem tersebut biasanya dibutuhkan investasi yang cukup besar, yang harus dikeluarkan oleh perusahaan sebelum yang bersangkutan dapat menuai manfaat yang signifikan untuk jangka menengah dan jangka panjang.
Hubungan upstream yang merupakan integrasi perusahaan dengan pemasoknya biasanya bertujuan untuk mengurangi total biaya overhead, sementara hubungan downstream yang mengintegrasikan perusahaan dengan konsumennya diharapkan dapat meningkatkan potensi pendapatan perusahaan (revenue).
Dengan dicapainya kedua objektif tersebut, secara tidak langsung akan meningkatkan status profitabilitas perusahaan.
    Oleh karena adanya arus pertukaran data antara beberapa entitas bisnis melalui medium internet yang merupakan public domain, faktor keamanan pun merupakan hal yang menjadi bahan pertimbangan di sini.
Walaupun murah secara biaya, namun faktor keamanan di internet masih sangat kurang, terutama jika dibandingkan dengan sistem proprietary yang hanya eksklusif menghubungkan beberapa perusahaan tertentu.
Untuk keperluan tersebut, tentu saja perusahaan harus memiliki sistem keamanan yang kuat, baik secara teknologi (fire walls) maupun secara proses (encryption).

Virtual Markets

Pada dasarnya, pasar virtual di sini merupakan implementasi sistem perdagangan elektronik (electronic trading systems). Oleh karena sifatnya yang B-2-B, pihak pihak yang saling melakukan perdagangan adalah korporat atau perusahaan, bukan individu. Misalnya,  NASDAQ Stock Exchange, yang merupakan sebuah pasar saham besar di dunia maya.
Alasan dipergunakannya teknologi internet adalah selain untuk meningkat kan efisiensi, dengan adanya keIelua-saan tersebut, juga diharapkan akan meningkatkan frekuensi dan volume perdagangan secara signifikan sehingga meningkatkan value pasar tersebut.
Secara prinsip, ada dua jenis virtual market yang telah diimplementasikan secara sukses di internet, yaitu internet stock trading system dan intenet ‘buying-selling’ integration system.
Internet stock trading system merupakan sebuah sistem perdagangan saham perusahaan yang diimplementasikan dengan menggunakan prinsip free market. Dalam hal ini, penjual dan pembeli dapat bertemu secara langsung di dunia maya.
Sebenarnya yang dilakukan hanya dua buah transaksi utama, yaitu “jual” dan “beli”; dalarn hal ini, korporat, melalui situs yang ada, melakukan mekanisme tersebut yang kemudian dikelola secara teknis oleh sistem backoffice.
Charles Schwab dan E*Trade merupakan dua perusahaan dotcom yang telah menerapkan sistem ini.
Internet ‘Buying Selling’ Integration System pada dasarnya mirip dengan Internet Stock Trading System. Perbedaannya, sistem ini tidak dilakukan dalam lingkungan transaksi bisnis yang free karena pada dasarnya ada sebuah perusahaan yang berfungsi mempertemukan antara perusahaan penjual dan perusahaan pembeli.
Sistem ini dikatakan bukan free market karena perusahaan dotcom yang bersangkutan turut “campur tangan” sebagai moderator atau fasilitator dalam mekanisme perdagangan yang terjadi. Contohnya, proses pelelangan melalui internet yang “memaksa” perusahaan menjadi penengah untuk mencegah terjadinya transaksi langsung antara penjual dan pembeli seandainya mereka saling mengetahui lokasi dan identitasnya (secara prinsip cara ini akan lebih murah karena tidak ada biaya fee yang harus dibayarkan ke perusahaan).
Isu isu yang berkaitan dengan sistem B-2-B ini adalah sebagai berikut :
    Dalam format free market, target utama sebuah sistem adalah menciptakan efisiensi perdagangan sehingga jika dengan adanya sistem B-2-B hal ini tidak tercapai, sistern yang ditawarkan akan “mati” dengan sendirinya karena tidak efektif.
    Scalability merupakan kata kunci kualitas arsitektur teknologi informasi yang harus dibangun dan dikembangkan. Keberhasilan implementasi business model akan terlihat dari meningkatnya frekuensi dan volume perdagangan dari waktu ke waktu secara cepat, dan cenderung dengan percepatan eksponensial.
    Sistem keamanan juga tidak kalah penting dalam format perdagangan ini karena terlepas dari jenis barang yang diperdagangkan (saham, produk, obligasi, komoditas, dan sebagainya), pada internet yang mengalir adalah data digital. jika ada orang yang dapat mengintervensi medium tersebut dan mengacaukan data yang ada, dampak negatifnya akan jelas terlihat dan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: