Demokrasi Politik, Demokrasi Ekonomi dan Sistem Ekonomi Kerakyatan

Pakar Ekonomi Kerakyatan (H. Adi Sasono) berbincang dengan Ahli Pertambangan (Dr. H. Said Aziz, MSc)

Pakar Ekonomi Kerakyatan (H. Adi Sasono) berbincang dengan Ahli Pertambangan (Dr. H. Said Aziz, MSc)

Oleh    :   Tarmizi Abbas  & Win Konadi Manan

Abstrak

Demokrasi politik merupakan syarat bagi berjalannya  demokrasi ekonomi. Pelaksanan demokrasi ekonomi akan terwujud bila terdapat kesejajaaran antara sistem politik dan sistem ekonomi.  Dalam sejarah perekonomian nasional, semangat demokrasi ekonomi sering dilanggar oleh menjurusnya sistem ekonomi nasional baik ke arah ekonomi kapitalistik atau ke sistem ekonomi terpusat. Sistem  Ekonomi Kerakyatan yang bercirikan penegakan keadilan demokrasi ekonomi dan pemihakan terhadap yang lemah merupakan landasan dan sekaligus sebagai sarana bagi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang merupakan pilar utama demokrasi ekonomi.

Kata Kunci: demokrasi politik, demokrasi ekonomi, sistem ekonomi kapitalis, sistem   ekonomi terpusat dan sistem ekonomi kerkayatan

Dr. Tarmizi Abbas, Ir, MS., adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, NAD.

Win Konadi Manan. Drs., M.Si., adalah Magister Demografi UI. Dosen UNIMUS MATANG, UISU Medan, STIE Kebangsaan Bireuen, NAD

1. Pendahuluan

Demokrasi menurut ilmu politik/pemerintahan berarti kedaulatan berada ditangan rakyat. Indonesia adalah negara demokrasi dimana kekuasan politik ada ditangan rakyat, seperti tersurat dalam  Pasal 1 Ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Mengacu pada Pasal 1 Ayat 2 UUD 1945, maka rakyatlah yang  memiliki kedaulatan dalam menentukan keputusan-keputusan penting di bidang politik

Senada dengan pengertian demokrasi dalam ilmu politik/pemerintahan, demoraksi ekonomi dapat pula diartikan sebagai kedaulatan ekonomi yang berada ditangan rakyat. Dalam hal  ini,  rakyatlah yang berhak menentukan tiga masalah utama ekonomi yaitu apa yang harus diproduksi (what), bagaimana memproduksi (how) dan untuk  siapa barang dan jasa yang diproduksi (for whom

Konsep demokrasi ekonomi mulai hangat dibahas dan diperbincangkan setelah Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menyusun konsep Demokrasi Ekonomi pada tahun 1990. Konsep demokrasi ekonomi yang diformulasikan ISEI secara garis besar terdiri atas dua bagian  yaitu (1) penjabaran demokrasi ekonomi sebagai dasar sistem ekonomi nasional, dan (2) penjabaran demokrasi ekonomi dalam  format  program-program pelaksanaannya.

Landasan konstitusionil  demokrasi ekonomi adalah Pasal 33 UUD 1945 dan landasan idilnya adalah Pancasila. Walaupun belum ada penjabaran yang lebih konkrit mengenai demokrasi ekonomi, namun  GBHN/TAP MPR IV 1978 telah mengemukakan mengenai ciri-ciri positif Demokrasi Ekonomi yaitu (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan, (2) cabang-cabang produksi yang penting dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, (3) bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, (4) sumber-sumber kekayaan dan keuangan  negara digunakan dengan permufakatan Lembaga-lembaga Perwakilan Rakyat, serta pengawasan terhadap kebijaksanaannya ada pada Lembaga Perwakilan Rakyat juga, (5) warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, (6) hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat, (7) potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap waraga negara diperkembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum, (8) fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

Demokrasi Ekonomi menghindari terjadinya sistem ekonomi liberalism, etatisme dan pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok atau monopoli. Sistem ekonomi liberalism harus dihindari karena menimbulkan eksploitasi dan penghisapan terhadap sesama manusia. Sistem etatisme dimana ekonomi dikuasi oleh  negara juga harus dihandari, karena etatisme dapat mematikan usaha-usaha di luar sektor negara seperti usaha swasta, koperasi dan usaha kecil.

Pelaksanaan demokrasi ekonomi baru mencapai  tujuannya, bila pemerintah benar-benar menjalankan demokrasi  politik yang merupakan prasyarat bagi berjalannya demokrasi ekonomi. Lebih lanjut,  diperlukan adanya kesejajaran antara sistem politik dan sistem ekonomi yang dianut dan menjadi landasan bagi sistem ekonomi nasional. Tanpa adanya kesejajaran antara sistem politik dan sistem ekonomi, maka penjabaran  nilai-nilai demokrasi ekonomi  dalam keseluruhan sistem perekonomian nasional hanya merupakan  sebuah mitos belaka.

Bila sistem ekonomi mengarah  ke sistem ekonomi kapitalis maka demokrasi ekonomi tidak akan terwujud,  karena dalam sistem ekonomi liberalis-kapitalistik akan terjadi penghisapan terhadap yang lemah dan pemusatan kekuatan ekonomi hanya berada pada sekolompok orang. Sebaliknya jika sistem ekonomi  mengarah ke sistem ekonomi terpusat, maka akan terjadi penguasaan oleh negra yang berlebihan yang dapat mematikan inisiatif dan kreasi individu dan  badan usaha lainnya di luar sektor negara.

Tulisan ini akan membahas (1) keterkaitan antara sistem politik dan sistem ekonomi dan (2) keterkaitan antara Demokrasi Ekonomi dan  Sistem Ekonomi Kerakyatan. Keterkaitan antara sistem politik dan sistem ekonomi harus dibahas lebih dahulu, mengingat politik sebagai suatu sistem akan  mempengaruhi sistem-sistem yang lain termasuk sistem ekonomi dan sosial. Selanjutnya tulisan ini akan membahas keterkaitan antara Demokrasi Ekonomi dan Sistem Ekonomi Kerakyatan. Dalam rangka  mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang merupakan dasar demokrasi ekonomi maka sistem ekonomi nasional haruslah didasarkan kepada  demokrasi ekonomi. Sistem yang menurut penulis cukup tepat dan relevan dengan semangat  demokrasi ekonomi adalah Sistem Ekonomi Kerakyatan.

2. Pembahasan

2.1 Keterkaitan antara Sistem Politik dan Sistem Ekonomi

Dalam sejarah perpolitikan di  Indonesia, sistem politik nasional cenderung berada diantara dua kutub sistem politk yaitu antara kutup libelism dan kutub sosialism. Sejalan dengan pergerakan arah sistem politik nasional, sistem ekonomi nasional  juga bergerak diantara dua kutub sistem ekonomi, yaitu antara kutub ekonomi kapitalis dan kutub ekonomi terpusat[2].  Pada periode Ekonomi Terpimpin,  sistem ekonomi nasional cenderung mengarah  ke sistem ekonomi terpusat. Setelah berakhirnya masa demokrasi terpimpin, sistem ekonomi nasional cenderung berkiblat kepada sisitem ekonomi kapitalis.

Ketika  sistem ekonomi mengarah  ke sistem ekonomi kapitalis maka demokrasi ekonomi akan sulit terwujud,  karena dalam sistem ekonomi liberalis-kapitalistik akan terjadi penghisapan terhadap yang lemah dan pemusatan kekuatan ekonomi hanya berada pada sekolompok orang. Sebaliknya jika sistem ekonomi  mengarah ke sistem ekonomi terpusat, maka akan terjadi penguasaan oleh negara yang berlebihan yang dapat mematikan inisiatif dan kreasi individu dan  badan usaha lainnya di luar sektor negara.

Pelaksanaan demokrasi ekonomi baru mencapai  tujuannya bila terdapat kesejajaran antara sistem politik dan sitem ekonomi. Sistem politik yang demokratis akan memberikan iklim yang kondusif bagi terwujudnya demokrasi ekonomi. Dengan lain perkataan, demokrasi  politik yang merupakan prasyarat bagi berjalannya demokrasi ekonomi. Tanpa adanya kesejajaran antara sistem politik dan sistem ekonomi, maka penjabaran  nilai-nilai demokrasi ekonomi  dalam keseluruhan sistem perekonomian nasional hanya merupakan  sebuah mitos belaka.

2.2 Keterkaitan antara Demokrasi Ekonomi dan Sistem  Ekonomi Kerakyatan

Sistem Ekonomi Indonesia merupakan Sistem Ekonomi Campuran (mixed economy) yang memiliki unsur-unsur sistem ekonomi kapitalistik (mekanisme pasar)  dan unsur-unsur sistem ekonomi terpusat (pengaturan oleh negara). Sebagai sistem ekonomi campuran, sistem ekonomi nasional berada kisaran   mekansime pasar  dan kontrol oleh negara sebagai stabisator, dinamisator  dan regulator. Sistem  mekanisme pasar merupakan unsur sisetm ekonomi nasional yang cukup penting, karena sistem perekonomian bekerja menurut mekanisme pasar. Namun sesuai dengan jiwa dan semangat Demokrasi Ekonomi, peran sistem ekonomi pasar  dibatasi untuk tidak menjurus pada free ligft liberalism yang menimbulkan eksploitasi terhadap mereka yang  lemah dan miskin serta mencegah terjadinya pemusatan kekuatan ekonomi pada segelintir orang. Peran negara  dalam perekonomian dibatasi hanya sebagai stabisator, dinamisator  dan regulator. Meskipun negara berhak menguasai  cabang-cabang produksi yang penting dan yang menguasai hajat hidup orang banyak,  namun kekuasaan negara dibatasi oleh  syarat dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam hal ini,  peran negara lebih berfungsi sebagai pelaksana keadilan sosial dan bukan fungsi penguasaan terhadap cabang-cabang produksi.

Sistem ekonomi nasional disamping ditafsirkan sebagai Sistem Ekonomi Campuran juga ditafsirkan sebagai Sistem Ekonomi Pancasila.  Mubyarto menggali landasan filosofsis dari sistem ekonomi nasional  dan kemudian menyimpulkan bahwa, Sistem Ekonomi Indonesia adalah sistem ekonomi yang berdasarkan Pancasila sebagai landasan filosofisnya. Selanjutnya Mubyarto menamakan sistem ekonomi nasional dengan sebutan Sistem Ekonomi Pancasila.

Menurut pandangan  Mubyarto  (1994), Sistem  Ekonomi Pancasila memiliki ciri-ciri yang diturunkan dari sila-sila Panca Sila yaitu (1) roda perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial dan moral, (2) ada kehendak kuat dari seluruh anggota masyarakat unjtuk mewujudkan keadaan kemerataan sosial ekonomi, (3) prioritas kebijaksanaan ekonomi adalah pengembangan ekonomi nasional yang kuat dan tangguh, yang berarati nasionalisme selalu menjiwai setiap kebijaksanaan ekonomi, (4) koperasi merupakan sokoguru perekonomain nasional, (5) adanya imbangan yang jelas dan tegas antara sentralisme dan desentralisme kebijaksanaan ekonomi untuk menjamin keadilan ekonomi dan keadilan sosial dengan sekaligus menjaga prinsip efisiensi dan pertumbuhan ekonomi[3].

Lebih lanjut, Sri-Edi Swasono (1988) yang  mengulas tentang orientasi Ekonomi Pancasila menyimpulkan bahwa Ekonomi Pancasila adalah Ekonomi Sosialis Indonesia yaitu ekonomi yang berorientasi kepada Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan dan keadilan sosial[4]. Disamping dikenal dengan sebutan Sistem Ekonomi Pancasila, sistem ekonomi nasional belakangan ini juga populer dengan  sebutan Sistem Ekonomi Kerakyatan.

Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Perencanaan Nasional Tahun  2000-2004 menyebutkan 5 ciri  sistem ekonomi kerakyatan yaitu  (1) penegakan prinsip keadilan demokrasi ekonomi disertai kepedulian terhadap yang lemah, (2) pemihakan, pemberdayaan dan perlindungan terhadap yang lemah oleh semua potensi bangsa, terutama pemerintah sesuai dengan kemampuannya, (3) penciptaan iklim persaingan usaha yang sehat  dan intervensi yang ramah pasar, (4) pemberdayaan kegiatan ekonomi rakyat yang sangat terkait dengan pembangunan pedesaan, (5) pemanfaatan dan penggunanan tanah dan sumberdaya alam lainnya, seperti hutan, laut, air, udara dan mineral secara adil, transparan dan produktif dengan mengutamakan hak-hak rakyat setempat, termasuk hak ulayat masyarakat adat dengan tetap menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup.

Bila dikaji secara mendalam, Konsep Ekonomi Kerakyatan berdasarkan Program Perencanaan Nasional 2000-2004, merupakan penjabaran yang lebih opersional dalam rangka  mewujudkan demokrasi ekonomi, dimana penegakan keadilan demokrasi ekonomi dan pemihakan terhadap yang lemah merupakan ciri utama dari  Sistem  Ekonomi Kerakyatan.

Dalam sejarah perekonomian nasional, semangat demokrasi ekonomi sering dilanggar oleh menjurusnya sistem ekonomi nasional ke arah ekonomi kapitalistik. Pada masa orde baru, praktek monopoli atau setidak-tidaknya praktek oligopoli sudah mewarnai wajah perekonomian nasional, bahkan kekuatan ekonomi secara nasioanl berada pada beberapa konglomerat. Dalam konteks inilah, Sistem  Ekonomi Kerakyatan harus dijadikan sistem ekonomi nasional guna mencegah menjurusnya sistem ekonomi nasional ke arah ekonomi kapitalistik atau sebaliknya mencegah menjurusnya sistem ekonomi nasional ke arah sistem ekonomi terpusat seperti yang terjadi pada masa Ekonomi Terpimpin.

Penegakan prinsip keadilan demokrasi ekonomi disertai kepedulian terhadap yang lemah sebagai ciri utama  Sistem  Ekonomi Kerakyatan dijiwai oleh semangat untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan yang disertai keberpihakan terhadap yang lemah adalah langkah yang amat penting dalam rangka mempercepat pengentasan kemiskinan dan membatasi pemusatan kekuatan ekonomi pada segelintir orang. Keberpihakan terhadap yang lemah berarti memberikan berbagai kemudahan fasilitas, akses modal dan pendidikan dan perlindungan sosial kepada nmasyarakat miskin.

Sejauhmana prinsip keadilan demokrasi ekonomi sebagai ciri utama  Sistem  Ekonomi Kerakyatan telah diwujudkan dalam keseluruhan kehidupan ekonomi nasional dapat dilihat dari perkembangan tingkat kesenjangan dan distribusi pendapatan. Bila  tingkat kesenjangan dan distribusi pendapatan semakin membaik berarti prinsip keadilan demokrasi ekonomi sudah mewarnai kehidupan ekonomi nasional dan sebaliknya.

Dalam Sistem  Ekonomi Kerakyatan, masalah kesenjangan dan distribusi pendapatan merupakan tujuan  utama dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak ada artinya pertumbuhan, kalau kemajuan ekonomi hanya dinikmati oleh segelintar golongan saja. Pertumbuhan haruslah disertai dengan pemerataan, bahkan pemerataan harus dijadikan sasaran  utama pembangunan ekonomi nasional.

Bank Dunia telah mengembangkan sebuah teknik untuk mengukur distribusi pendapatan. Menurut Bank Dunia, ketidakmerataan  distribusi pendapatan ditentukan oleh besarnya persentase pendapatan yang diterima oleh 40 persen penduduk berpendapatan rendah. Kriteria yang dipakai untuk mengukur ketidakmerataan  adalah, (1)  jika 40 persen penduduk berpendapatan rendah menerima kurang dari 12 persen pendapatan dikatagorikan sebagai ketidakmerataan tinggi, (2)  jika 40 persen penduduk berpendapatan rendah menerima antara 12 sampai 17 persen pendapatan dikatagorikan sebagai ketidakmerataan sedang, dan (3)  jika 40 persen penduduk berpendapatan rendah menerima lebih dari 17 persen pendapatan dikatagorikan sebagai ketidakmerataan tinggi,

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa, perkembangan distribusi pendapatan di Indonesia selama tahun 1976-2004 menunjukkan kecendurungan yang semakin baik,  dimana tingkat ketidakmerataan berada pada tingkat ketidakmerataan rendah. Pada tahun 1976, kelompok 40 persen penduduk berpendapatan rendah telah menerima 19,6 persen pendapatan dan pada tahun 2004,  pendapatan yang diterima kelompok 40 persen penduduk berpendapatan rendah meningkat menjadi 20,8 persen.

Tabel.1

Perkembangan Distribusi Pendapatan 1976-2004

Tahun

Distribusi Pendapatan

40 Persen Terendah

40 Persen Menengah

40 Persen Tertinggi

1976

19.6

38.0

42.5

1978

18.1

36.5

45.3

1980

19.6

38.2

42.3

1981

20.4

37.5

42.1

1984

20.8

37.3

42.0

1987

20.9

37.5

41.7

1990

21.3

36.8

41.9

1993

20.3

36.9

42.8

1996

20.3

35.1

44.7

1998

21.5

36.9

41.5

1999

21.5

37.4

41.2

2002

20.9

36.9

42.2

2003

20.6

37.1

42.3

2004

20.8

37.1

42.1

Sumber: Badan Pusat Statistik. 2005. Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka.

Disamping ukuran distribusi pendapatan yang dikembangkan oleh Bank Dunia, ketidakmerataan juga dapat diukur dengan menggunakan indeks gini atau gini rasio.  Indeks gini merupakan ukuran ketidakmerataan agregat yang nilainya berkisar antara nol (kemerataan sempurna) dan satu (ketidakemerataan sempurna).  Berdasarkan standar internasional, indeks gini kurang dari 0.3 dikatagorikan sebagai  kesenjangan rendah dan indeks gini lebih dari 0.5 dikatagorikan sebagai  kesenjangan tinggi.

Dengan menggunakan indeks gini, diperoleh perkembangan distribusi pendapatan di Indonesia yang dapat dikatagorikan sebagai ketidakmerataan rendah.  Pada tahun 1976, indeks gini tercatat sebesar 0.34 dan pada tahun 2004 telah menurun menjadi 0.32. Penurunan indeks gini tersebut menunjukkan bahwa, pemerintah telah berhasil menurunkan tingkat ketidakmerataan, walau dalam kadar yang masih rendah.


Tabel.2

Perkembangan Indeks Gini 1969-2004

Tahun

Indeks Gini

Perkotaan

Pedesaan

Nasional

1976

0.35

0.31

0.34

1978

0.38

0.34

0.38

1980

0.36

0.31

0.34

1981

0.33

0.29

0.33

1984

0.32

0.28

0.33

1987

0.32

0.26

0.32

1990

0.34

0.25

0.32

1993

0.33

0.26

0.34

1996

0.36

0.27

0.35

1998

0.33

0.26

0.32

1999

0.33

0.24

0.31

2002

0.33

0.25

0.32

2003

0.32

0.24

0.32

2004

0.31

0.25

0.32

Walaupun secara makro, pemerintah telah berhasil menurunkan tingkat ketidakmerataan. Namun beberapa studi yang dilakukan pada  tingkat mikro, justru memperlihatkan adanya ketidakmerataan dan kemiskinan baik di daerah pedesaan maupun di perkotaan. Ketidakmerataan dan kemiskinan menyebar secara sporadis di daerah–daerah tertentu dan kadang-kadang terkosentrasi di tempat tertentu yang membentuk kantong-kantong kemiskinan. Studi yang dilakukan Penny dan Singarimbun (1973) dan Penny (1990)  di Miri Sriharjo sebuah desa di Jawa Tengah menunjukan bahwa proporsi rumah tangga  miskin begitu besar yang mencapai 56 persen dari total rumah tangga.

Dengan membandingkan dua realitas dalam perspektif yang berbeda, dapat disimpulkan bahwa, secara makro diakui terjadinya penurunan tingkat ketidakmerataan dan kemiskinan. Namun secara mikro, di tempat-tempat tertentu, ketidakmerataan dan kemiskinan semakin meningkat. Krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1997 dan kenaikan harga BBM, beberapa bulan yang lalu, ikut  menambah  jumlah kantong-kantong kemiskinan di Indonesia.

3. Penutup

Dalam rangka  melaksanakan  demokrasi ekonomi diperlukan prasyarat berupa  adanya kesejajaran antara sistem politik dan sistem ekonomi. Sistem politik yang demokratis akan memberikan iklim yang kondusif bagi pelaksanaan  demokrasi ekonomi.

Sistem  Ekonomi Kerakyatan yang bercirikan penegakan keadilan demokrasi ekonomi dan pemihakan terhadap yang lemah merupakan landasan dan sekaligus sarana dalam rangka mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan yang merupakan dasar demokrasi ekonomi.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. 2005. Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta

Cristopher Pass dan B. Lowers, 1994,  Kamus Ekonomi Lengkap, Jakarta, Penerbit Erlangga,

Gossman, Gregory,  2001,  Sistem-sistem Ekonomi. Terjemahan Anas Sidik,  Jakarta, Bumi Aksara.

Mubyarto,  1994,  Sistem  dan Moral Ekonomi Indonesia,  Jakarta, LP3ES.

Penny, D.H., 1990, Kemsikinan dan Sistem Pasar. Jakarta, UI Press.

Penny, D.H., dan M. Singarimbun, 1973, Population and Poverty in Rural Java: Some Economic Arithmetic from Sriharjo, Cornell International Agricultural Development Mimeograph 41, Cornell University, Ithaca

Samuelson, P.A.  dan W.D Nordhaus, 1995, Economics, New York, Mc. Graw-Hill.

Sri Edi Swasono,  1988,  Orientasi Ekonomi Pancasila, dalam Abdul Madijd dan Sri Edi Swasono (Edt.),  Wawasan Ekonomi Pancasila,  Jakarta, UI Press.


[1] Persoalan pokok dalam ekonomi dibahas dalam beberapa texbook diantaranya Samuelson dan W.D Nordhaus. 1995. Economics. Mc. Graw-Hill. New York. Hal 24-25

[2] Pada dasarnya Sistem Ekonomi terdiri atas Sistem Ekonomi Kapitalis atau Ekonomi Pasar (Private Enterprise Economy), Sistem Ekonomi Terpusat atau Sistem Ekonomi Komando               (Centrally Planned Economy) dan Sistem Ekonomi Campuran (Mixed Economy). Lihat Cristopher Pass dan B. Lowers. Kamus Ekonomi Lengkap. Jakarta, Penerbit Erlangga, 1994, hal. 183-184. Pembahasan yang lebih rinci terdapat dalam  Gregory Gossman,. Sistem-sistem Ekonomi. Terjemahan Anas Sidik. Jakarta, Bumi Aksara, 2001

[3] Mubyarto, Sistem  dan Moral Ekonomi Indonesia, Jakarta, LP3ES. 1994, hal. 44-45


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: