SINGKIL BERPOTENSI LADANG LOGAM

Dr. Said Aziz, MSc  (Caleg DPD NAD RI : 2009-2012)

Dr. Said Aziz, MSc (Caleg DPD NAD RI : 2009-2012)

Dr. Said Aziz, M.Sc

S a r i : Kabupaten Singkil, di Propinsi NAD, terletak pada morfologi perbukitan sedang sampai terjal dan pedataran. Dari aspek geo- logis, daerah ini ditempati oleh batuan Kuarter sampai pra Tersier. Pada umumnya batuan yg tersingkap beru pa batuan sedimen, gunung api dan malihan yang sebagian telah terminerali-sasikan. Ini terbukti dari hasil analisis laboratorium Pusat Survey Geologi Bandung, bahwa ada kecenderungan bebatuan di Kab. Singkil terdapat kandungan unsur besi (Fe) cukup tinggi berkisar antara 25 % sampai 61 %, sedangkan kandungan logam lainnya seperti tembaga (Cu), timbal (Pb), seng (Zn), mangan (Mn), titan (Ti) dan emas (Au) dalam kadar yang rendah. Batuan yang mengandung unsur besi tersebar cukup luas terutama dalam Formasi Sibolga sebagai endapan sedimenter. Batuan yang mengandung unsur logam lainnya dengan kadar cukup baik seperti Pb, Zn, dan Mn terdapat di daerah hulu Sungai Sarkea dan Sungai Penungtungan. Daerah ini mempunyai kandungan besi yang dianggap berpotensi.

1.  Pendahuluan

Pulau Sumatera terletak di daerah tumbukan antara dua lempeng besar yaitu Lempeng Samudera Hindia dan Eurasia. Pergerakan Lempeng Samudera Hindia ke utara menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dan ditandai dengan kegiatan magmatisme dan gunungapi aktif yang dimulai sejak Miosen Awal hingga sekarang. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses terbentuknya mineralisasi logam di Pulau Sumatera, termasuk di daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Di samping proses mineralisasi akibat penunjaman dan magmatisme juga terdapat tipe mineralisasi yang terbentuk akibat proses pengendapan di daerah busur belakang, seperti jebakan timah hitam di daerah Parongil, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Timah hitam yang ditemukan di daerah tersebut terperangkap dan terbentuk pada Formasi Kluet, yang sebarannya juga menerus ke wilayah Singkil, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Secara geologi daerah Singkil memiliki batuan Pra tersier, Tersier dan Kuarter. Batuannya dari tua ke muda terdiri atas batuan Formasi Kluet, Formasi Sibolga, Formasi Barus, Formasi Gunungapi Trumon, Formasi Tutut, Tufa Toba dan Aluvium (Gambar 1).
g1

Gambar 1. Peta geologi daerah penelitian (Aldiss dkk., 1983).

Batuan berumur Pra Tersier adalah Formasi Kluet, disusun oleh batupasir metakuarsa, metawacke, batusabak dan filit. Batuan berumur Tersier adalah Formasi Sibolga, Formasi Barus dan Formasi Gunungapi Trumon. Batuan Formasi Sibolga terdiri atas batupasir, batulumpur, batulanau dan konglomerat, kemudian diatasnya tidak selaras diendapkan batuan Formasi Barus terdiri atas batupasir, batulumpur gampingan, sedikit gamping, dan konglomerat alas. Kemudian secara tidak selaras ditutupi oleh batuan Formasi Gunungapi Trumon terdiri atas batuan gunungapi andesitik dan batupasir.
Batuan berumur Kuarter adalah Formasi Tutut, Tufa Toba dan Aluvium. Komposisi Formasi Tutut terdiri atas konglomerat, batupasir, sedikit batulanau dan batulumpur, kemudian Tufa Toba terdiri atas tufa riodasit, sebagian sebagai ’welded tuff’, sedangkan aluvium terdiri atas kerikil, pasir, lanau, lempung dan lumpur.
Gambaran penampang geologi di daerah sekitar lembah Sarkea diperlihatkan dalam Gambar 2.

g2

Gambar 2.  Sketsa penampang geologi di sekitar daerah lembah Sarkea.

2.   Potensi Logam Singkil

Pulau Sumatera terletak di sepanjang arah baratlaut – tenggara Jalur Sunda. Pulau ini terbentuk akibat adanya penunjaman lempeng Samudera Hindia di sebelah baratdaya yang bergerak ke arah utara dan menunjam ke bawah lempeng Sunda atau Eurasia di timurlaut utara. Bagian barat dari Palung Sunda merupakan prisma baji berumur Neogen yang membentuk Kepulauan Mentawai dan sebagiannya adalah pulau Banyak, di baratlaut Kota Singkil. Daerah antara punggung prisma dan daerah cekungan muka merupakan daerah alihan menganan sepanjang sesar memotong (transcurrent fault) yang dialasi oleh prisma akrasi berumur Paleogen.
Pergerakan magma akibat dari penunjaman tersebut membentuk batuan gunungapi Tersier hingga sekarang yang mendominasi bentuk geologi pulau Sumatera yang memanjang utara-barat. Tegangan yang dihasilkan akibat dari tunjaman miring kerak samudera yang dilepas secara berkala oleh pergerakan sesar menganan terhadap tepi lempeng. Semua ini merupakan hasil gerakan sistem sesar Sumatera yang berhubungan di utara dengan seri sesar tukar (transform fault) di laut Andaman (Fitch, 1972).
Berdasarkan hasil penelitian lintasan geologi daerah ini, mendeskripsikan bahwa di Sungai Penuntungan ditemukan batuan lapili tuf berwarna putih kotor mengandung batuapung dan fragmen batuan. Batuan ini termasuk Satuan Gunungapi Toba (Qvt), yang secara tidak selaras menindih batuan Formasi Kluet (Puk) yang telah mengalami litifikasi tinggi yang dicirikan dengan berkembangnya banyak mineral berlembar terutama piropilit atau muskovit. Di bagian hulunya ditemukan banyak bongkah breksi yang komponen dan masadasarnya terdiri dari hematit.
Di lintasan punggungan sebelah barat laut da.ri sungai Penuntungan juga ditemukan batuan dari Satuan Gununungapi Toba yang terdiri atas tufa lapili berwarna putih kotor, ’glass shard’, biotit, kuarsa, mineral hitam dan batuapung.
Di bagian bawahnya di temukan satuan sedimen klastika yang terdiri dari selang-seling antara batupasir, batulanau dan batulempung. Batupasir berwarna kelabu, kuning kecoklatan, banyak “limonitic stains”, jejak akar dan jejak cacing (animal burrows). Butirannya halus, seragam dan mengandung mineral pirit. Batulanau berwarna kelabu kekuningan hingga kejinggaan, sangat halus, mengandung karbon dan piritan. Di samping itu terlihat adanya struktur gelembur-gelombang, silang siur, jejak beban dan sedikit sisa tetumbuhan. Secara stratigrafi satuan ini termasuk dalam Formasi Sibolga.
Satuan batuan yang ditemukan di Lintasan Singersing adalah satuan batuan konglomerat yang cukup luas dengan sisipan batulanau tufaan dan batupasir limonitan. Satuan batuan ini termasuk dalam Formasi Gunungapi Trumon berumur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir (Aldiss dkk., 1983). Di lokasi pengamatan, batuan ini menindih secara erosional (tidak selaras) batuan batulempung menyerpih berwarna abu-abu. Dalam Formasi ini di sekitar perkampungan Desa Singersing ditemukan batuan terobosan dioritik. Tidak jauh dari desa tersebut di aliran Sungai Rasau pernah ada penambangan emas plaser yang dikelola oleh masyarakat setempat yang sekarang sudah ditutup.
Di lintasan Sungai Beski, ditemukan satuan batupasir lanauan yang disisipi oleh bintal-bintal batulempung piritan. Di atasnya ditutupi oleh lapisan batupasir besian (ferrogeneous sandstone). Satuan batuan tersebut menurut peta geologi Aldiss dkk. termasuk dalam Formasi Barus, namun apabila dikorelasikan dengan temuan singkapan di lintasan Sarkea, litologinya hampir sama sehingga boleh jadi singkapan batuan ini masih termasuk batuan Formasi Sibolga.
Di daerah hulu Sungai Batubatu ada dua lintasan pengamatan, yaitu lintasan ke arah utara menuju ke Lei Bor dan ke arah timur menuju daerah Formasi Kluet. Batuan yang ditemukan dari ke dua lintasan tersebut umumnya hampir sama yaitu batulempung menyerpih berwarna abu-abu keputihan, selang-seling antara batupasir berwarna kuning kecoklatan dan serpih, dan batupasir limonitan dengan sisipan batupasir besian sangat kompak dan urat-urat hematit. Singkapan batuan ini diyakini termasuk ke dalam Formasi Sibolga. Batupasir besian maupun urat-urat hematit diambil contohnya untuk analisis laboratorium.
Pengamatan di daerah Lintasan bagian tengah Sungai Sarkea dilakukan di daerah pedataran dan perbukitan bergelombang sedang sekitar aliran Sungai Sarkea bagian tengah. Di lereng bukit di temukan singkapan batulempung menyerpih berwarna abu-abu keputihan dengan bintal-bintal batulempung piritan dan lapisan tipis batupasir besian yang termasuk dalam batuan Formasi Sibolga. Singkapan ini mirip dengan singkapan yang ditemukan di lintasan daerah hulu Sungai Batubatu dan hulu Sungai Beski yang juga termasuk Formasi Sibolga.
Selain itu di lokasi lain ditemukan singkapan batulempung lanauan dengan lensa-lensa batubara. Kemudian di lokasi pinggir Sungai Sarkea bagian tengah ditemukan singkapan batupasir metakuarsa yang diyakini termasuk ke dalam Formasi Kluet. Di lokasi ini pula di aliran Sungai Sarkea ditemukan fragmen-fragmen batuan urat mineralisasi (floating) sebagai hasil rombakan sungai tersebut dan anak-anaknya. Hal ini bisa ditafsirkan bahwa di aliran Sungai Sarkea ke arah hulu terdapat daerah mineralisasi tipe hidrotermal.
Berdasarkan singkapan batuan yang termineralisasi dari beberapa lintasan jumlah contoh yang diteliti Pusat Survey Geologi, Departemen ESDM, Bandung, sepertiga contoh batuan  mengandung unsur logam besi (Fe) cukup baik dengan kisaran antara  24.70% hingga 60.80%. Lainnya mengandung jejak emas (Au) 108 ppb sampai 389 ppb, kemudian  mengandungan unsur tembaga (Cu) sebanyak 226 ppm. Kandungan unsur seperti ini umumnya dijumpai pada jebakan “skarn”, yaitu ubahan batu yang mengandung unsur karbonat yang diterobos oleh batuan terobosan (Evans, A.M.,1993).
Contoh lokasi lain mengandungan unsur seng (Zn) cukup signifikan yaitu 7400 ppm, sampai  9240 ppm,  lokasi contoh ini termasuk ke dalam jebakan yang terbentuk oleh larutan hidrothermal. Sample bisa juga merupakan jebakan tipe skarn Fe (Cu, Zn) atau magnesia besi yang terkait dengan batuan terobosan granodiorit hingga granit berbentuk retas kecil (Evans, A.M., 1993).
Di daerah penelitian bagian utara, unsur mineral logam yang menonjol. Ada unsur besi (Fe). Kadarnya berkisar antara 24,70 % hingga 52,42 %. Kemudian, mineral logam lainnya seperti tembaga (Cu), timbal (Pb), dan seng (Zn) terdapat dalam jumlah sangat kecil, kadarnya kurang dari 0,01 %. Sama halnya dengan kandungan emas (Au), walaupun ada tetapi kadarnya sangat kecil kurang dari 2 ppb.
Ditemukannya fragmen-fragmen batuan mineralisasi di Sungai Sarkea bagian tengah memberikan indikasi bahwa di daerah hulu sungai Sarkea ada kegiatan terobosan magma.
Demikian juga di daerah Singersing ditemukan batuan terobosan dioritik yang menerobos batupasir dari Formasi Gunungapi Trumon. Di sekitar daerah tersebut pernah ada penambangan emas plaser di Sungai Rasau oleh masyarakat setempat yang sekarang telah ditutup. Diduga emas plaser yang ditemukan di sungai tersebut berasal dari rombakan urat mineralisasi yang diakibatkan oleh terobosan tersebut.
Di beberapa tempat di Sungai Beski dan Sungai Batubatu ditemukan singkapan batulempung lanauan mengandung bintal-bintal batulempung piritan dan lapisan tipis batupasir besian. Hal ini diduga bahwa daerah ini merupakan daerah oksidasi masa lalu. Selain itu di daerah lintasan Sungai Sarkea bagian tengah di dalam batulempung lanauan mengandung lensa-lensa batubara. Kehadiran batubara ini mencerminkan lingkungan pengendapan darat sampai transisi.
Fragmen-fragmen batuan  sebagai ’floating’ yang ditemukan di aliran Sungai Sarkea bagian tengah terdiri atas fragmen urat mineralisasi tipe hidrotermal, ’disemenated’ dan batubesian (ironstone). Temuan ini dapat meyakinkan bahwa di daerah bagian hulu Sungai Sarkea terdapat daerah mineralisasi.
Analisis kimia menunjukan bahwa unsur logam paling menonjol yang terdapat di bagian permukaan adalah besi.  Logam ini tersebar cukup luas mulai dari daerah penelitian bagian utara sampai ke selatan. Daerah-daerah sebaran besi tersebut adalah perbukitan Lumut Tonggal di lintasan S. Beski, perbukitan sekitar S. Batubatu bagian tengah,  perbukitan di sekitar S. Sarkea tengah dan hulu serta di daerah perbukitan sekitar S. Penuntungan. Unsur logam selain besi yang mengandung kadar agak tinggi terdapat di daerah sekitar hulu S. Sarkea dan S. Penuntungan. Unsur logam tersebut adalah timah hitam, sebesar 1080 ppm, kemudian seng yang kadarnya 4310 ppm sampai 9240 ppm serta mangan, yaitu 1,24 %.  Untuk lebih jelasnya sebaran logam-logam tersebut diperlihatkan dalam peta sebaran pada Gambar  di bawah ini.
g3

Peta sebaran mineralisasi di Kabupaten Aceh Singkil.

3.  Penutup

Daerah morfologi Singkil tergolong dalam morfologi perbukitan di bagian timur dan timurlaut serta pedataran di bagian baratdaya ditempati oleh batuan Kuarter sampai pra Tersier. Pada umumnya batuan yang tersingkap berupa batuan sedimen, gunungapi dan malihan.
Hasil penelitian adalah berupa peta lintasan pengamatan, sejumlah contoh batuan yang dianalisis dilaboratorium, menunjukkan batuan terbesikan yang terbentuk dalam Formasi Sibolga, tergolong tipe sedimenter dan tersebar cukup luas diutara daerah penelitian.
Penelitian menemukan batuan marmer, batu tanduk dan kuarsit,. yang terbentuk akibat adanya pemalihan kimia-iso (isochemical metamorphism). Batu tanduk yang berlapis merupakan hasil dari pelepasan kandungan silika pada batuan serpih.
Hasil analisis laboratorium terhadap sejumlah contoh menunjukan adanya kandungan besi (Fe) dalam 8 buah contoh cukup tinggi berkisar antara 25 % sampai 61 %. Sedangkan logam lainnya seperti Cu, Pb, Zn, Mn, Ti dan Au dalam kadar yang rendah.
Dengan demikian hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa daerah Subulussalam bagian timur dan timurlaut merupakan daerah mineralisasi logam yang berpotensi.

DAFTAR PUSTAKA

Aldiss, D.T., Whandoyo R., Syaefuddin A.G. dan Kusjono (1983). Geology Lembar Sidikalang, Sumatera. Sekala 1 : 250.000. Puslitbang Geologi. Bandung

Bemmelen, R.W. van (1949). The geology of  Indonesia. 2nd Ed. Martinus-Nijhoff, The Hague. The Netherlands.

Cameron, N.R., Clarke, M.C.G., Aldiss D.T., Aspden, J.A. dan Djunuddin, A. (1980). The geological evolution of northern Sumatera. Proc. 9th Ann. Conv. IPA, Jakarta, 149 – 187

Evans, A.M. (1993). Ore Geology and Industrial Minerals; an Introduction; Geoscience Text, 3rd Edition, Blackwell Sc. Publ.

Fitch, F.J. (1972). Plate Convergence, Transcurrent Faults & internal deformation adjacent to southeast Asia and the Western Pacific. J. Geophys. Res. V.77, pp. 4432 – 60.

Hamilton, W. (1979). Tectonics of the Indonesia region. USGS Prof. Paper 1078, pp. 345

Karig, D.E. dan Sharman, G.F. (1975). Subduction and Accretion in Trenches. Geol. Soc. Am. Bull. V.86 ; Geo. Soc. Pp. 377 – 389

Karig, D.E., Lawrence, M.B., Moore, G.F. & Curray, J.R. (1980). Structural Framework of the fore-arc basin N.W. Sumatera. J.Geo. Soc. London. V. 137; pp. 77-91

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: